Ads 468x60px

Jumat, 28 Oktober 2016

Cara Mengajar Anak SD yang Efektif

Cara Mengajar Anak SD yang Efektif

Cara Mengajar Anak SD yang Efektif - Ketika seorang guru dihadapkan untuk mengajar anak SD tentu ini adalah sesuatu yang menarik dan sangat menangtang. Apalagi jika dia statusnya guru baru dan belum memiliki banyak pengalaman mengajar, butuh waktu serta tenaga untuk bisa beradaptasi. Karena kita tahu sendiri, siswa SD adalah mereka yang usianya masih sekitar 6-11 tahunan, usia yang senang-senangnya bermain. Jelas ini membuat para guru SD harus kerja lebih dan menerapkan berbagai strategi dalam mengajar.
Cara Mengajar Anak SD yang Efektif
Nah bagi rekan - rekan yang ingin tahu bagaimana cara mengajar Anak SD yang efektif, mari disimak ulasannya di bawah.

Ambil Langkah Jitu dan Banyak Bertanya

Guru adalah mereka yang memiliki kewajiban mentransfer ilmu yang dimilikinya. Oleh karenanya para pendidik harus faham dengan materi yang diajarkannya. Semakin banyak ilmu yang dimiliki seorang guru, maka semakin besar pula kesempatan bagi siswa untuk mendapatkan ilmu yang lebih. Namun demikian, selain guru harus faham dan mengerti dengan materi yang dipegangnya, ia juga harus tahu metode-metdoe dalam kegiatan pembelajaran. Ilmu yang ditransfer dengan metode yang benar akan menghasilkan sesuatu yang positif, akan tetapi jika sang guru tidak mampu menerapkan metode dengan tepat maka ilmu yang dibagikannya tidak akan maksimal tersalurkan.
Dalam belajar siswa SD terkadang mengalami kesulitan dalam mengingat sesuatu. Ditambah lagi jika materinya banyak, pasti lebih sulit lagi. Nah disinilah guru harus memberikan sebuah langkah jitu untuk mengatasi itu semua. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan metode "Chungking". Metode chungking adalah metode yang memudahkan siswa dalam mengingat sesuatu.
Contoh dari penggunaan metode ini, misalkan siswa disuruh untuk mengingat angka : 14062008. Dalam hal ini siswa bisa mempergunakan metode chungking untuk mengingat angka tersebut, yaitu dengan:
14, 06, 2008 = Siswa membagi angkat kedalam 3 kelompok. Dan disesuaikan berdasarkan tanggal lahir. Kenapa ? Ini dibuat untuk memudahkan siswa dalam mengingat angka tersebut.
Contoh lain, misalkan siswa di suruh mengingat sederet kata: Sapi, Rumput, Lapangan, Tennis, Air, Anjing, Danau. Dalam hal ini siswa bisa mempergunakan metode chungking untuk mengingat kata tersebut, yaitu:
"SAPI terlihat makan RUMPUT disamping LAPANGAN TENNIS. Setelah itu ia meminum AIR yang tidak jauh dari ANJING yang sedang memandang DANAU di sebrang"
Cara efektif dalam penggunaan metode ini adalah banyak bertanya. Apabila guru sudah memberikan instruksi kepada siswa untuk menghafal sesuatu, siswa harus diberi pertanyaan yang banyak berkenaan dengan materi bersangkutan. Ini dilakukan untuk mengetahui letak kesulitan siswa dalam menghafal sehingga guru bisa langsung membantu permasalahannya tersebut.

Atur Tempat Duduk Siswa dengan Tepat

Hubungan sosial sangat penting bagi anak-anak sekolah dasar. Pada usia ini, siswa SD tengah belajar bagaimana membangun persahabatan dan belajar tentang bagaiman bekerja dengan kelompok. Seringkali, guru dalam mengatur tempat duduk dikelompokan berdasarkan minat dan kemampuan. Ini sangat penting bagi para siswa dalam mengembangkan pemahaman akan diri mereka sendiri sebagai seorang peserta didik dan untuk dapat meningkatkan kesadaran berfikir mereka.

Guru harus mempertimbangkan berbagai faktor dalam perencanaan penemapatan posisi duduk siswa. Ketika menemukan siswa berkebutuhan khusus, seperti mereka yang memiliki permasalahan dalam prilaku, maka memilihkan tetangga yang bisa menjadi pantutan posisitf bagi siswa bersangkutan adalah strategi terbaik. 

Anak-anak selalu ingin berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan, namun mereka juga terkadang bingung, bagaimana caranya agar hal tersebut bisa terwujud. Nah peran seorang guru lah sangat penting di sini. Para pendidik bisa mengubah pola tempat duduk siswa.  Apabila siswa ditempatkan dengan partner yang tepat, maka hal tersebut bisa membantu mereka dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karenanya guru harus sesering mungkin untuk merubah pola-pola posisi duduk agar bisa ditemukan partner yang tepat bagi siswa. 

Membangun Harapan Prilaku Siswa di Awal Tahun Pembelajaran

Setiap guru sepanjang tahun pembelajaran pasti akan menemukan minimal satu atau dua orang siswa yang membuat guru tertantang. Tertantang disini bisa karena murid tersebut berprestasi atau mungkin sebaliknya, nakalnya bukan main. Mengajar anak seperti ini jelas membutuhkan sebuah perjuangan yang ekstra. Perlu perencanaan yang jitu dan berkualitas untuk mengatur prilaku masing-masing siswa yang tentunya bisa diterima oleh anak bersangkutan. Beberapa ide tersebut bisa berupa:
  • Gunakan kertas berbentuk bintang untuk diletakan di meja siswa ketika mereka bekerja secara produktif, yang nantinya dapat ditebus untuk hadiah keren di lain waktu.
  • Siapkan jenis kartu yang berbeda untuk nantinya ditempatkan di meja siswa apabila mereka tidak bekerja dengan tepat, ini dilakukan sebagai peringatan halus. Sebuah kartu merah untuk menunjukkan "STOP" adalah contoh yang bagus.
Dengan mengidentifikasi isyarat perilaku di awal tahun pembelajaran, guru akan dapat lebih baik dalam mengelola siswa yang sekiranya tidak termotivasi. Pastikan untuk memberikan perhatian kepada setiap siswa dan gunakan berbagai strategi untuk mempertahankan kontrol dan menampilkan manfaat pendidikan untuk mengarahkan anak menuju ke perubahan positif. 
Reade more >>

Cara Mendidik Anak Yang Baik, Cerdas, Religius, dan Patuh

Cara Mendidik Anak Yang Baik, Cerdas, Religius, dan Patuh


Memiliki anak yang baik dalam bersikap, cerdas, dan patuh adalah impian siapa saja. Maka dari itu intuk memilki anak dengan kriteria di atas adalah sepenuhnya tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak sedini mungkin. Lantas bagaimanakah cara mendidik anak yang baik dan benar?. Secara teori hal itu tampak mudah namun dalam penerapanya tidak semua orangtua berhasil melakukanya.

Cara mendidik anak harus dipahami secara menyeluruh bukan hanya sepenggal-sepenggal saja. Agar anak tumbuh dengan utuh baik secara intelektual, spiritual, dan emosional. Maka mendidik anak seharusnya berupa upaya mengajak dan memotivasi anak kearah positif untuk berani meenukan hal-hal baru secara intelektual, spiritual, dan emosionalnya. Ketiganya jangan dipisahkan apalagi dihilangkan.

Kesalahan yang umum dilakukan orangtua adalah mereka merasa telah cukup hanya dengan memasukan anak kesekolah. Toh mereka juga diajari di sekolahan berbagail hal. Pada posisi ini maka kemungkinan gagal dalam mendidik anak sudah di depan mata. Seharusnya tanggung jawab sebagai orang tua dalam mencetak anak yang berkualitas tidak bisa sampai disitu saja. Apa saja yang harus dilakukan?.
Cara Mengajar Anak SD yang Efektif

Image credits: Creative Commons - https://www.flickr.com/photos/dalbera/2738451853/

Cara Mendidik Anak

1. Ajarkan Kemandirian dan Tanggung Jawab Sejak Usia Dini

Umumnya orang tua memiliki rasa khawatir yang berlebihan pada anak. Maka jangan lagi terlalu berlebihan mengkhawatirkan anak serta over protektif. Belajarlah untuk mempercayai buah hati anda namun tetap memantau dari jauh tanpa pengekangan maupun melindungi kesalahan yang dilakukan. Ajarkan pada buah hati anda mengetahui benda-benda miliknya serta merapikanya setelah bermain. Ketika sudah masuk masa sekolah ajarkan mereka untuk mempersiapkan keperluanya, beri uang saku dengan diarahkan untuk disisihkan sebagai tabungan.

2. Ajarkan dan Tumbuhkan Rasa Ingin Tahu Anak

Pada usia anak-anak mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ketika melihal benda-benda atau sesuatu yang belum pernah dilihat dan pahami maka biasanya mereka akan bertanya.
Sebagai orang tua anda harus menjawab dengan menjelasan yang mudah dipahami. Jika anda tidak tau akan hal itu jangan berbohong, berusahalah menjelaskan selogis mungkin. Hindari mengatakan "Tidak tahu" bisa saja mengalihkan dengan menyanggupi untuk mencari informasi tersebut. Jika buah hati anda termasuk yang tidak suka bertanya maka anda bisa memberikan umpan dengan memberikan penjelasan tanpa ditanya. Misalnya "itu adalah Gajah, hewan ini suka makan rumput dan memiliki hidung yang panjang" seperti itu.

3. Ajarkan dan Tumbuhkan Kemampuan Berpendapat Anak

Umumnya orang tua acuh terhadap pendapat anak. Mereka terlalu menganggap tidak penting pendapat anak-anak. Padahal ketika pendapat anak tidak dipedulikan maka bisa berdampak menjadikan anak minder tidak berani berpendapat. Sebagai orang tua sebaiknya belajar mendengarkan pendapat anak, jika memang pendapatnya tidak benar bisa dikoreksi. Misalnya dengan memberi respon positif saat anak berpendapat dengan meberi pujian positif meskipun pendapatnya asal-asalan.  Jika anak anda termasuh anak yang pemalu maka anda bisa memberikan umpan dengan mengajukan pertanyaan sehingga memicu buah hati anda untuk melontarkan pendapatnya.\

4. Ajarkan dan Tumbuhkan Rasa Sosial, Bersimpati, Emapti, dll

Sebagai manusia rasa sosial, simpati, empati, dan sikap itu sangat penting. Agar anak tumbuh menjadi manusia yang menghargai orang lain maka sedini mungkin ajarkanlah pada mereka untuk memahami lingkungan sekitar. Ajarkan pada anak anda untuk memberi pada mereka yang membutuhkan, dan tidak bersifat sombong. Misalnya ada pengemis, biarkan buah hati anda yang memberi. Kemudian berikan penjelasan kenapa kita harus memberi dan berbagi.

5. Beri Tauladan Yang Baik, Jadilah Contoh

Sebagai orang tua maka sikap dan prilaku kita adalah contoh utama yang akan di ikuti oleh buah hati kita. Jika ingin anak-anak kita bersikap sopan, bertuturkata yang baik, maka kita harus senantiasa bersikap seperti itu sebagai contoh. Jika ingin anak kita religius, maka kita harus memberi contoh seperti apa orang yang religius itu. Maka dari itu sikap orang tua adalah contoh dan teladan utama bagi anak-anaknya. .

Kesimpulan Cara Mendidik Anak Yang Baik

Dari beberapa pembahasan di atas tentang cara mendidik anak yang baik bisa disimpulkan bahwa anak harus diberi perhatian dan kasih sayang serta kepercayaan. Orang tua harus menyadari sepenuhnya bahwa buah hari mereka akan menyerap setiap hal dan kejadian disekitarnya maka dari itu contoh terbaik adalah lingkungan keluarga anda. Jangan berlebihan memproteksi anak dan jangan berlebihan mengabaikanya. Kasih sayang keluarga adalah kunci kesuksesan dalam mendidik anak.

Reade more >>

Bila Bisa Membaca, Anak-Anak Raih Diskon di Barbershop Ini


Bila Bisa Membaca, Anak-Anak Raih Diskon di Barbershop Ini


Akbar Muhibar


Liputan6.com, Jakarta Mendengar kata diskon, pasti Anda akan tertarik untuk mengejarnya. Tapi, diskon di barbershop ini berbeda dari biasanya. Ketika anak-anak Anda bisa membaca dengan baik, maka diskon sebesar 2$ USD akan diberikan oleh barbershop unik yang terletak di Ypsilanti, Michigan, Amerika Serikat.
Dilansir dari boredpanda.com Selasa (18/10/2016) Ryan Griffin, pemotong rambut yang ada di barbershop ini kerap memberikan diskon kepada anak-anak yang bisa membaca buku dan mengucapkannya dengan lantang. Ide ini sebelumnya sudah diterapkan di Harlem, New York. Ternyata idenya mendapatkan tanggapan menarik dari orangtua yang ada disekitar barbershop tersebut.

Orang tua sangat menyukai cara Ryan memotivasi anak-anak untuk membaca buku sambil dipotong rambutnya. Tentunya, setelah acara cukur rambut selesai, mereka mendapatkan kembali uang mereka karena diskon yang diberikan. Pujian untuk Ryan juga datang dari guru-guru yang berkunjung ke barbershop ini.
Anak-anak yang mendapatkan servis potong rambut di barbershop ini akan diberikan bacaan buku yang bertema gambaran positif dari kalangan Afrika – Amerika. Hal ini bertujuan untuk memberikan inspirasi pada konsumen muda ini untuk bermimpi yang tinggi. Ryan mengharapkan ketika mereka selesai membaca, anak-anak dapat menceritakan apa cita-citanya nanti di masa depan.

Reade more >>

Kamis, 27 Oktober 2016

Minat Sains pada Anak Perlu Ditingkatkan

Minat Sains pada Anak Perlu Ditingkatkan


Minat Sains pada Anak Perlu Ditingkatkan
Mendikbud Muhadjir Effendy mendukung diselenggarakannya berbagai kompetisi sains bagi pelajar dan mahasiswa. Foto/SINDOphoto/Yulianto
JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan mendesain ulang pembelajaran di sekolah agar minat siswa pada sains meningkat.

Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan, Kemendikbud sedang mendesain pola pembelajaran yang lebih baik di tingkat SD hingga SMP. Dia menjelaskan, penekanan substansi pembelajarannya ada dua yakni pada literasi dan numerasi.

Jika literasi adalah menumbuhkan minat baca maka numerasi, katanya, ialah akan menumbuhkan kecintaan sains pada anak. ”Jadi kita tidak akan memperbanyak mata pelajaran tetapi kita akan perbanyak aktivitas anak untuk membuat proyek, model atau simulasi di bidang sains,” katanya di kantor Kemendikbud, Selasa 25 Oktober 2016.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini menjelaskan, Kemendikbud akan membangkitkan karakter anak yang cinta sains dengan menumbuhkan rasa ingin tahu melalui fenomena di lingkungan sekitar. Dia menjelaskan, guru adalah ujung tombak keberhasilan program ini, karena mereka yang akan mengarahkan anak untuk mengobservasi, bertanya, mencari jawaban, pengumpulan data hingga merumuskan kesimpulan berdasarkan data yang telah diolah.

PT Pertamina (Persero) mengapresiasi kebijakan Kemendikbud untuk menumbuhkan kecintaan siswa pada sains. Hal ini selaras dengan Pertamina yang memiliki program Pertamina Olimpiade Sains (POS). ”Pertamina Olimpiade Sains merupakan kompetisi sains bergengsi bagi mahasiswa perguruan tinggi nasional, sebagai wadah untuk mengasah kompetensi di bidang sains baik pada tataran teori maupun project, dan telah melahirkan generasi muda yang telah menerapkan project-nya hingga tahap aplikasi khususnya di bidang pengembangan energi baru dan terbarukan,” ujar Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Wianda Pusponegoro.

Tahun ini merupakan penyelenggaraan POS ke-9. Program ini merupakan kelanjutan dari kegiatan yang sama pada tahun sebelumnya sebagai bagian dari program CSR Pertamina Cerdas, dalam mencetak generasi muda berprestasi yang terus berkarya membangun negeri. Pada 2016 ini, kompetisi sains nasional yang sebelumnya bernama OSN Pertamina tampil dengan nama baru yaitu ”Pertamina Olimpiade Sains”.

Selain dengan nama baru, POS juga melakukan pengembangan pada kompetisi Kategori Teori, yaitu dengan mengubah sistem tes Seleksi Daerah (tingkat provinsi) yang sejak 2008 dilakukan dengan metode PBT (Paper Based Test) menjadi CBT (Computer Based Test). Dengan begitu peserta POS 2016 dapat mendaftar sebagai dan mengikuti tes Seleksi Daerah tanpa harus terkendali dengan jarak dan lokasi pelaksanaan tes seleksi.

Event istimewa ini selaras dengan SINDO Media yang memiliki concern tinggi dalam dunia pendidikan. Pemimpin Redaksi (Pemred) KORAN SINDO dan SINDOnews Pung Purwanto mengungkapkan wujud dukungan SINDO Media adalah dengan bekerja sama dengan Pertamina menggelar ajang edukasi sains dengan cara yang menyenangkan dan interaktif, bernama Pertamina Science Fun Fair 2016 pada 29 Oktober mendatang.

Pung menerangkan, Pertamina Science Fun Fair akan diikuti oleh 2.500 peserta dari seluruh wilayah Jabodetabek. ”Terdapat kesamaan misi antara SINDO Media dengan Pertamina, untuk lebih meningkatkan minat generasi muda pada sains,” ujar Pung. ”Pada acara ini, kami mengundang siswa dari SD hingga SMA untuk mengirimkan proyek sains mereka untuk dilombakan. Para pemenang akan diumumkan Februari 2017 nanti,” katanya.

Pertamina Science Fun Fair rencananya akan dibuka oleh Mendikbud Muhadjir Effendy. Acara yang sudah memasuki tahun kedua ini tidak hanya akan diisi seminar namun juga menghadirkan inovator cilik Naufal yang berhasil membangkitkan energi listrik dari pohon kedondong, meski saat ini usianya baru10 tahun. Naufal akan memberikan semangat dan inspirasi bahwa suatu karya inovasi itu pun bisa diciptakan oleh para siswa sekolah dasar.

 Adapula talkshow menarik yang akan diisi oleh Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain dan Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Wianda Pusponegoro. Acara semakin menarik dengan hadirnya Indonesia Idol Cilik 2015 Andy yang bakal membawakan lima lagu untuk menghibur penonton.

Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain mengungkapkan, perkembangan ilmu pengetahuan yang cepat menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda, sehingga negara berkembang seperti Indonesia perlu meningkatkan kualitas generasi muda melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Generasi muda, katanya, adalah aset bangsa dan harus terus dibina sebagai salah satu upaya membentuk posisi Indonesia di masa depan dan mendorong percepatan inovasi.

Diketahui, LIPI sendiri membuat kompetisi sains yakni Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) LIPI yang tahun ini sudah terlaksana 48 kali. LIPI mencatat terjadi lonjakan antusiasme remaja Indonesia dalam bidang riset setiap tahunnya. Jika pada 2015 karya yang masuk sejumlah 2.041 proposal, maka tahun ini ada 3.203 proposal yang mendaftar baik individu maupun tim.

Senior Advisor for Knowledge Management and Communications Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) Indonesia Totok Amin Soefijanto mengatakan, event ini sangat bagus sekali untuk menumbuhkan minat sains pada anak sejak dini. Dia pun berharap kompetisi ini akan berlangsung setiap tahun sehingga anak dengan mudah bisa menyalurkan hasil karyanya ke ajang bergengsi seperti ini.

Totok menyampaikan, kompetisi memang bagus untuk memicu kecintaan anak pada sains. Sebab melalui kompetisi anak akan diajarkan untuk berkolaborasi agar karya yang dihasilkan semakin baik. Terlebih anak-anak pun sangat senang dengan hadiah sehingga bisa merangsang mereka untuk memberikan karya terbaiknya.

”Tidak hanya dirangsang untuk mendapat hadiah namun ada proses pembelajaran yang maju melalui kolaborasi. Sebab tidak akan ada prestasi tanpa ada kompetisi,” katanya.

Dia menambahkan, sejak kecil anak harus dirangsang bahwa pelajaran sains itu menyenangkan melalui apa yang dilihat di sekitarnya. Dia setuju jika guru adalah ujung tombak oleh sebab itu pemerintah harus mendidik guru untuk memahami sains sehingga bisa kreatif memberikan pengajaran sains yang menyenangkan. Dia berpendapat, kurikulum yang dibangun saat ini sudah bagus untuk meningkatkan minat sains sehingga tidak perlu ada perubahan kurikulum kembali.
Reade more >>